Pages

Thursday, 21 July 2011

yang tertuntaskan

Pernah baca postingan yang Nestapa Anak Jaman Pertengahan yang aku tulis Desember 2009 dulu? Disitu aku cerita gimana susahnya beli PS2 yang udah diimpikan bertahun tahun sejak masih duduk di bangku toilet... Maap, SMP maksudnya.

Nah! Sekarang, semua derita itu telah terbayar. Di kantor ada PS2 yang bisa aku bawa pulang kalo lagi pengen. Jadi, aku kan dipercaya jadi koordinator Rumah Bahasa. Otomatis dikasih modal awal buat biayai promosi, perlengkapan dan blablabla. Salah satu perlengkapan yang dari dulu sering banget aku saranin ke bosku buat dibeli adalah PS2. Ya awalnya sih cuman becanda, haha... Eh, dibeliin beneran sekalian belanja TV kemaren.

Tuh PS2 kalo di kantor lebih sering buat main game sepakbola sama warga kantor. Emang tujuan utamanya sebenernya biar tentor tentor pada ngumpul di kantor, biar kantor rame, biar tentor pada betah di kantor. Selain itu kan ada program English For Fun di Rumah Bahasa yang bisa pake PS2nya buat muter DVD Bahasa Inggris. Kompletlah semua hal yang aku pengen sejak kecil di kantor: TV kabel, WiFi yang juga hasil ngompor ngomporin si Bos plus PS2 itu. Emang bener ya... Semua pasti ada jalannya! Hahaha... Kalo sabar tapi.

Pokoknya aku jadi penanggung jawab PS2 di kantor, haha... PS2nya bisa aku bawa pulang kalo lagi nggak ada kumpul kumpul di kantor, muohohohohoho... Mengagumkan, aku juga nggak percaya... Akhirnya kebeli juga setelah 9 tahun lebih. Aku nggak mau PS3, aku nggak mau Xbox, aku nggak mau yang lebih canggih... Cuman mau PS2 buat namatin Final Fantasy X sama XII.

Impian masa kecil tak akan pernah padam. Ini seperti dendam yang harus dituntaskan...

Friday, 8 July 2011

10 tahun nanti

It's sometimes in my mind minutes before I sleep: 10 tahun ntar aku lagi ngapain ya di jam yang sama?

Kalo sekarang sih aku lagi di coffee groove. Menikmati jalanan Tembalang yang sibuk tiap sore, lihatin perilaku orang orang disini sambil nulis postingan ini nih. Yah, sekalian makan malam lah pake schotel plus minuman favoritku disini: death by chocolatte.

Tadi sih abis dari kantor. Jadi, sekarang aku nggak cuman ngajar di Antologi tapi juga bertanggungjawab sama Rumah Bahasa. Rumah Bahasa ini sendiri tuh pecahan baru Antologi yang isinya mapel mapel bahasa. Buat sekarang sih cuman ada Bahasa Inggris, tapi itu juga udah ada 3 program. Aku yang arrange silabus, tata tertib dan tetek bengeknya. Menurutku ini lumayan keren buat seorang mahasiswa semester 8 berumur 21 tahun. Itu tadi aku sebutin umur biar nggak salah sangka, aku masih muda.

Nah, kalo ntar jam 8 rencananya mau ketemu temen di Tugumuda. Dia anak SMA 3 yang mau jualan buat dana KIR gitu deh. Yah, itung itung main lah abis seharian di kantor.

Kalo udah review kayak gini, aku bayangin 10 tahun ke depan aku juga lagi di sebuah cafe. Mungkin di Starbucks. Tapi kali ini sama temen bisnis. Bukan ngomongin bisnis, cuman ngobrol lepas aja. Laptop, hape, kopi sama makanan kecil berserakan di meja. Laptopku mungkin nggak yang mahal, tapi hapeku paling hi-tech saat itu. Bajuku masih sama. Bukan baju yang ini masih aku pake 10 tahun lagi, tapi tetep kaos dan jeans casual.

Laptopku isinya laporan laporan bisnis. Tapi cuman aku lihatin sesekali sambil tetep ngobrolin apa aja sama temenku tadi. Aku punya beberapa usaha, yang udah rada gede itu toko bangunan dan bimbel. Lagi rencana buat beli franchise burger buat dibuka di daerah Tembalang.Kalo sekarang terbatas pesen masing masing satu kopi dan schotel, mungkin 10 tahun lagi bisa nambah dengan gampang karena duit di tabungan udah puluhan juta.

Pulangnya masih naik motor. Tapi motornya yang sekaliber Ninja 250cc gede itu. Masih males kalo harus kredit mobil padahal belom punya calon istri. Ya... Aku ngebayangin diriku sendiri masih jomblo bahkan sampai 10 tahun ke depan. Ngenes ya?

Kata mereka, orang yang bisa menggambarkan masa depannya dengan detail bakal bener bener terwujud impiannya. Gambaran punyaku tadi nggak detail sih, tapi minimal aku tahu mau ngapain besok. Mungkin berubah, mungkin nggak sama, tapi aku tahu mau ngapain besok...

Thursday, 23 June 2011

dear, pak marmo

Kepada Yang Terhormat Bapak Soemarmo
Walikota Semarang
di tempat




Dear, Pak Marmo
Apa kabar, Pak? Baik baik saja? Oh, ya udah. Apa kabar anak anak Bapak? Baik juga ya? Oh, ya udah juga. Maap jika sekiranya saya sok kenal karena memang mungkin Bapak nggak kenal saya yang cuma mahasiswa jelata ini. Saya pun selama ini hanya bisa mengenal Bapak dari lembaran Suara Merdeka atau abis nonton film Tanda Tanya. Bapak ganteng banget disitu, ehm.

Begini, Pak... Maksud saya menulis surat ini bukan sekedar berkenalan tapi ada tujuan yang lebih dahsyat daripada itu. Saya ingin mengapresiasi perkembangan pusat kota Semarang yang banyak perubahan sejak Bapak menjabat sebagai walikota. Trotoar Jalan Pahlawan, trotoar Tugu Muda, Taman KB dan Simpang Lima semuanya ditata agar terlihat lebih menarik bagi warga Semarang maupun luar kota. Itu adalah inisiatip yang sangat sangat applicable daripada program SPA (Semarang Penuh Air) yang dulu sempat dicanangkan oleh... Siapa? Lupa. Lupakan. Yang penting saya sangat salut atas apa yang telah Bapak lakukan pada wajah kota ini. Tapi, Pak... Ya, semua pernyataan harus ada tapinya, Pak... Tapi sekiranya Bapak tak boleh lupa bahwa penataan kota yang baik itu juga meliputi ketersediaan akses antara daerah pinggiran ke pusat kota maupun daerah pinggiran ke daerah pinggiran lainnya. Dalam hal ini yang akan saya bahasa adalah Ngaliyan ke Banyumanik.

Saya adalah warga Ngaliyan yang hampir tiap hari mencari sesuap nasi di Banyumanik. Tidak, saya tidak nodong nasi gratisan di warung masakan Padang. Saya adalah mahasiswa Undip sekaligus tentor Bahasa Inggris. Kenapa saya sampai jauh jauh dari Ngaliyan ke Banyumanik cuman buat jadi mahasiswa dan tentor? Karena memang kampus saya dan kebanyakan kampus kampus lain disana. Kondisi ini mengakibatkan Ngaliyan sepi dari usaha bimbingan belajar atau yang berhubungan dengan sekolah lainnya. Di Ngaliyan hanya dikuasai oleh beberapa bimbel besar. Saya pun, karena memang kuliah di daerah Tembalang, akhirnya mencari kerja sebagai tentor di Banyumanik yang letaknya dekat juga. Lagipula, banyaknya kampus di Tembalang mengakibat banyaknya kafe dan tempat nongkrong juga. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan Ngaliyan pada umumnya atau Pasadena, rumah saya, pada khususnya. Saya sebagai mahasiswa dan tentor juga memiliki cita cita terpendam menjadi anak gaul. Saya tak bisa menjadi anak gaul Semarang 2011 jika hanya mengandalkan Ngaliyan atau mall mall di Semarang bawah sementara kawan kawan sejawat gaul pada bergaul di Tembalang.

Saya tak akan mengeluh soal letak kampus saya. Saya juga tak mungkin meminta kampus saya atau tempat tempat nongkrong super gaul itu dipindahkan ke Ngaliyan. Yang perlu diperhatikan disini adalah kemudahan akses dari Ngaliyan ke Banyumanik. Perlu diketahui bahwa saya yang memakai sepeda motor ini tiap harinya harus melewati rute sepanjang hampir 20 km seperti berikut: Pasadena-Panjangan-Simongan-Kaligarang-Kariadi-S Parman-Sultan Agung-Jatingaleh-Gombel-Tembalang-Banyumanik. Sangat tidak efektif bukan? Mengingat sebenarnya ada jalur yang lebih pendek melalui TOL. Tapi sayangnya TOL hanya untuk kendaraan roda 4 atau lebih. Padahal Kabuto rodanya cuman 2, Pak... Cuman 2... Bayangkan itu. Oh, Apa? Kabuto? Itu nama motor matic saya, Pak. Imyut kan?

Menanggapi masalah ini, ijinkan saya memberi sedikit pilihan solusi:
  1. Motor diperbolehkan masuk TOL dengan lajur khusus. Selain akan mempermudah akses warga pinggiran Ngaliyan ke Banyumanik, juga menambah pemasukan secara optimal bagi negara. Bayangkan berapa duit yang bisa dikumpulkan dari ratusan atau bahkan ribuan pacar penglaju itu. Tapi jangan mahal mahal ya, Pak. Kami, sebagai mahasiswa, sangat alergi dengan sesuatu yang nominal harganya mempunyai banyak angka 0.
  2. Membangun jalan lingkar luar Semarang yang menghubungkan daerah daerah pinggiran di kota ini seperti halnya Ring Road di Jakarta dan Jogja. Geliat kehidupan dan perekonomian di Ngaliyan, Tugu, Gunung Pati dan Mijen akan semakin bergairah. Rada geli gimana gitu pas nulis 'bergairah' tapi itulah kenyataannya. Terutama Mijen, Pak. Disana banyak sekali pedagang durian yang belum terjamah. Bukan! Bukan maksud saya ingin menjamah pedagangnya. Tapi bagaimana seharusnya durian durian yang nikmat itu bisa didistribusikan dengan mudah ke seantero Semarang dan mungkin luar kota. Karena seperti yang kita ketahui bahwa saya sangat menyukai durian. Bapak tidak tahu? Ya sudah, pokoknya sekarang kan sudah tahu. Durian itu enak lho, Pak...
  3. Pinjamkan saya mobil dinas walikota.

Demikian beberapa inisiatip dari saya. Pilihan ketiga mungkin adalah yang paling sulit tapi tak ada yang tak mungkin jika kita percaya dan niat. Kita harus bersatu padu untuk membangun kota Semarang tercinta ini. Mungkin juga surat saya ini terkesan main main karena saya memang suka main, terutama spider solitaire yang beginner. Tapi apa yang saya alami juga dialami oleh orang lain. Saya hanya mencoba mencontohkan sebuah kasus nyata yang terjadi di kehidupan sehari hari kita. Saya adalah model dari masalah ribuan warga Semarang lainnya, uuoohhh!

Sekian surat dan masukan dari saya ini. Kalau ada kata kata yang tak berkenan, tolong jangan dimasukin hati, anggap aja kritik yang membangun. Kalau Bapak ingin belajar Bahasa Inggris juga bisa sama saya, saya bisa melatih grammar maupun conversation. Oh ya, tak lupa... Saya serius soal pilihan ketiga. Terima kasih...




Salam damai,


Arif Iman Sentosa
Warga Semarang yang mencoba berguna