

Bapak tua itu mulai di dorong dorong. Orang orang itu sepertinya sudah kehilangan akal. Aku tak kenal bapak itu, mungkin pemulung dilihat dari gerobaknya. Aku juga tak kenal orang orang itu, mungkin preman preman kampung dilihat dari tingkah lakunya.
Di saat saat seperti ini, gerimis dan angin yang kacau tanda Semarang akan hujan besar tak bisa lagi kuhiraukan. Aku tak bisa membiarkan si bapak dipojokkan seperti itu. Tapi aku ini hanya anak SMA yang sedang patah hati, yang sebenarnya hanya butuh sendiri. Aku cuma bisa terdiam mendelik melihat setiap adegan tadi dari pertama. Heran, kenapa tak ada orang lain yang membantu si bapak? Sekitar Tawang juga tak terlalu sepi. Seperti mereka sudah kenal preman preman itu dan tak mau berurusan dengannya...
Badai mendekat, petir mulai terdengar menyambar nyambar. Salah satu dari empat orang itu tiba tiba naik pitam. Dia melempar botol minuman ke paving kota lama hingga pecah. Aku masih bisa mendengar suara pecahannya meski dengan langit seberisik ini. Bentakan si preman juga terdengar makin keras. Gila! Aku tak bisa biarkan saja. Aku tahu, mungkin aku akan berakhir dengan mati ditusuk dan masuk headline Suara Merdeka tapi setidaknya... Satu kali di hidupku... Aku pernah melakukan hal yang lebih berguna daripada menyendiri menangisi wanita di Polder Tawang. Aku segera berlari ke arah mereka sambil berteriak 'Ojo, Mas! Ojo, Mas!...'.
Sampailah aku hadapan mereka. Tepat di antara si bapak tua dan empat pria kekar berambut kucel. 'Sabar, Mas! Sabar, Mas!', teriakku pada mereka. Agak aku tinggikan suaraku agar terdengar di tengah suara petir dan angin. Agar terdengar oleh orang orang setengah mabuk ini. Bau alkoholnya masih terasa meski mereka belum membuka mulut berbicara.
'Sabar piye?? Kowe rak sah melu melu!!', bentak salah satu dari mereka yang memakai kemeja merah butut.
'Duit, Mas?... Duit, Mas?... Jikok duitku wae ki, Mas..', tawarku sambil gemetaran mengambil dompet di tas.
Ketika kepalaku melongoh ke bawah ke dalam tas tiba tiba 'DAAKKKK!!!'. Badanku terhuyung ke samping. Aku terserak ke paving. Kening dan telinga kananku tiba tiba nyeri sekali, sakit. Aku tak bisa melihat jelas, semuanya hampir kabur. Sepertinya aku baru saja dipukul salah satu dari mereka karena jengkel. Samar samar dua preman paling depan menyerocos kata kata kasar kepadaku yang masih terjatuh mengaduh. Dua orang lainnya makin kalap dan menendang gerobak. Bapak itu berteriak jangan, meminta dalam bahasa Jawa kepada mereka agar tidak menjauhi gerobaknya. Aku sulit bangun untuk membantu.
Lagi lagi suara berisik kudengar samar samar. Suara orang orang yang lebih banyak. Itu warga sekitar yang mendekat, banyak sekali jumlahnya. Mereka datang bersama seorang polisi, seragam coklatnya masih khas terlihat mata perihku. Mereka orang orang baik pikirku. Preman preman itu kemudian lari terbirit birit masuk ke salah satu gang sempit Kota Lama, berganti orang orang lain yang kini mengerubungiku dan si bapak. Badanku diangkat oleh dua orang dari warga tadi, dibawanya aku ke tempat teduh di warung pojok stasiun Tawang. Tiba tiba ada yang menjerit. Selanjutnya diiringi kegaduhan orang orang lainnya. Si bapak dan gerobaknya dibawa ramai ramai ke tenda polisi non-permanen di parkiran stasiun. Ini apa lagi? Ini pasti ada yang tak beres! Aku segera beranjak berlari ke tenda polisi itu. 'Lho... Mau kemana, Dek? Sini dulu! Darahnya masih keluar di telinga itu lho, Dek!', jerit si pemilik warung. Aku terpincang pincang ke seberang di bawah hujan deras. Seragam sekolahku sudah hampir tak berwarna putih lagi, berganti merah darah yang merembes gara gara hujan.
Benar kulihat! Seorang polisi dan kerumunan orang menanyai bapak tua itu seperti kriminal. Aneh sekali, mengapa mereka tidak mengejar preman preman itu alih alih malah disini? 'Bapaknya gak salah, Pak! Bapaknya gak salah, Pak!', teriakku setengah sadar.
'Gak salah gimana??...', balas polisi itu.
Si polisi berbalik dan kembali bertanya ke bapak itu, 'Benar namamu Ratno?'
'Bener, Pak... Kulo Ratno...', jawab bapak itu dengan mata menerawang sesuatu.
'Kamu ngapain bawa bawa... Di gerobakmu itu lho! Kamu tahu itu apa? Kamu bisa kena masalah tahu gak!'.
'Itu benar anak saya, Pak... Namanya Muslikhin...'
Gerobak? Anak? Sekarung pertanyaan bergejolak di kepalaku yang tinggal sebelah ini dengan cepat. Sulit rasanya berpikir jika kamu hanya bisa melihat dengan mata kiri sementara kepalamu sakit dan telinga kananmu mengeluarkan banyak darah. Aku langsung terobos kerumunan orang yang mengelilingi gerobak Pak Ratno seperti keheranan. Aku singkirkan tangan tangan besar mereka. Hingga aku bisa melongok ke dalam isinya. Aku terkejut! Aku melongo diam lama sekali. Mataku mendelik seperti kesetanan...
Aku cepat cepat balik lagi ke Pak Ratno. Di depannya, sambil tak terasa air mata mengucur deras, aku bertanya 'Itu anak Bapak?'.
'Iya... Maturnuwun nggeh, Mas. Mau sampun ditulungi... Mas masnya tadi mau minta uang tapi saya nggak punya uang...'
'Itu anaknya Bapak???', aku ulangi pertanyaanku seolah tak peduli jawabannya baru saja.
'Iya, Mas... Mau saya kubur di Pati...'
'Kok bisa, Pak?'
'Tadi pagi sakit lagi, panas... Sudah dari kemaren Selasa. Baru tadi pagi nggak ada pas saya bawa mulung di Pemuda hujan hujan... Mau saya bawa pulang ke ibunya di Pati...'
'Kok bisa....', tangisku mengaburkan pertanyaanku yang kuulang ulang lagi.
'Saya nggak punya uang...'
Uang? Uang??? Kualihkan pandangan pada gerobak itu. Ada seorang anak laki laki terbaring. Matanya masih jernih. Umurnya mungkin 2 tahun. Tangannya mendekap kaki kakinya. Kepalanya menoleh ke kiri, tapi masih bisa kuintip bibirnya tersenyum simpul...
Barusan aku lewat jalan Perintis Kemerdekaan. Jalan keramat yang udah makan banyak nyawa itu. Jalan utama buat masuk Semarang dari arah Selatan. Ada yang beda tadi...
Sepanjang jalan dari klenteng Watugong sampe depan ADA rame parah, penuh sama kendaraan. Mungkin mereka para pemudik yang pengen balik ke kota. Balik lagi nyari nafkah buat balik lagi ke kampung halaman menyapa keluarga. Ini yang dari dulu selalu bikin aku terharu: buat apa mereka mudik?
Buat apa jauh jauh dari Jakarta ke Semarang, dari Semarang ke Madiun, dari Surabaya ke Pangkalan Bun, dari Pangkalan Bun ke antah berantah Kalimantan sana cuman buat beberapa hari ketemu macet, ketemu tiket abis, ketemu capek, ketemu kecelakaan... yang pada akhirnya cuman ketemu sodara beberapa hari? Padahal abis itu juga kudu muter siklus balik lagi ngelewatin tahapan tahapan tadi. Bukannya udah ada sms, telepon, facebook, video call gitu ya? Semangat buat ketemu keluarga itu yang bikin aku gak abis pikir...
Aku cuman tahu nama sodara sodara keturunan kakek nenek dari ibu. Maksudnya bapak, ibu, adik adiknya ibuku sama anak anaknya. Di luar itu, cuman tahu muka doang. Yah, aku gak kenal semua. Masa kecilku juga gak terlalu menyenangkan sama mereka. Pas Idul Fitri juga, aku jarang ikut keluarga ke sodara sodaranya bapak di Demak dan Jepara. Masa kecilku sama bapak juga sama gak menyenangkan. Lebih sering tinggal di rumah atau maen sama temen aja.
Dari situ, kalo papasan sama orang mudik di jalan hawanya pasti seneng seneng sendiri. Jadi kebawa semangatnya gitu deh. Apalagi yang sekeluarga bapak, ibu & anak anaknya pake motor. Yang barang bawaannya sampe harus disangga pake tongkat kayu di belakang. Bener bener bikin hati heran, seneng, semangat, haru jadi satu. Sering aku sebelahin motor mereka kalo pas di lampu merah sambil perhatiin detail. Aku lihatin tingkah lakunya, apa aja barang bawaannya... Kadang kadang malah aku buntutin dari belakang kemana arah perginya. Entah deh, mungkin aku dikira jambret kali! Hahaha... Dan kayak yang biasa orang tanyain tentang mereka, terutama pemudik bermotor, pertanyaan sama juga dariku: apa mereka gak perhatiin nyawanya? apa tuh orang tua gak peduliin keselamatan anak anaknya? Apa gak takut dijambret, digendam, jatoh kecelakaan?
Tapi mereka tetep aja masih ada tiap tahun, masih pengen ketemu keluarganya. Mereka itu keren!
Laen lagi sama pedagang asongan, pak polisi, sopir sopir bis, masinis, penjaga perlintasan rel dan semua orang yang gak mau ninggalin pekerjaannya pas Lebaran. Lho, katanya ini Lebaran, hari hari buat ketemu sama keluarga? Kok mereka tetep aja mau kerja? Apa mereka gak bisa ambil cuti beberapa hari aja ya? Apa institusinya yang gak ngebolehin mereka libur? Gak adil dong kalo gitu. Sangat kebalikan dari pemudik pemudik yang gak peduliin apa yang penting bisa ketemu sama sanak keluarga pas Lebaran datang. Ini rahasia mudik...
Ambil contoh yang paling kentara tetep kerja aja deh: pak polisi. AKu yakin mereka aslinya pengen banget abisin waktu sama anak istri tersayang pas hari penting itu. Tapi kalo mereka juga ikutan libur, siapa yang bakal ngatur jalanan? Jalanan yang selalu penuh macet parah pake banget pas arus mudik...
Mereka yang gak ketemu keluarga pas Lebaran buat ngurus kepentingan orang banyak, mereka juga keren!
Gak perlu ngelarang orang buat mudik. Mudik pake mobil, pesawat, kereta atau motor yang kayak aku bilang tadi. Lagian juga ngapain ngelarang orang buat ketemu sama keluarganya? Cuman setahun sekali ada kayak gini di Indonesia. Mudik kan juga jadi ladang nafkah yang gede buat pemerintah dan sebagian orang laennya. Hargain juga orang yang gak ketemu keluarganya pas hari itu. Misal kalo ketemu pedagang asongan di SPBU bisalah beli satu atau dua barang dagangannya. Kalo pun gak mau beli, tolak dengan santun gak pake muka ditekuk. Kalo ketemu polisi lagi ngatur jalur mudik, gak perlu diomelin. Gak perlu ngeklakson klakson juga kalo masih macet sampe berjam jam. Percuma, kendaraan di depan juga sama gak bisa jalannya kan... Saling ngehargai deh ya. Pak polisinya udah ngorbanin waktu biar kita kita semua lancar melampiaskan kangen sama yang disayang disana...
Mudik itu keren! Apalagi yang pake motor sekeluarga... Pertanyaanya: Besok pas aku udah punya istri, udah punya anak... Apa aku bakal mudik juga ke rumah orang tuaku?
Waktu itu aku gak bisa nyetir, plus gak punya mobil keluarga pula. Yang ada mah pick up Carry yang biasa dibawa pulang ke rumah sama bapak abis kerja...
Aku coba berpikiran positif aja sama dia. Yakin kalo pertanyaannya gak bermaksud apa apa, cuman tanya. Dan setelah itu pun kita tetep jalan pake motor. Aku enjoy aja dan semoga dengannya. Tapi tetep, peringatan buat para cewek, usahakan jangan nyeletuk kayak gitu. Sekaya apapun cowoknya, kalo ditanya kayak gitu pasti sedikit ilfeel deh sama kamu. Rata rata cowok gak suka ditanya tentang penghasilan dan semua yang berhubungan dengan materi.
Hingga suatu hari, cewek yang lagi deket sama aku itu sms. 'Kamu bisa nyetir gak? mbak latree minta ditemenin ke Solo buat peluncuran bukunya.', begitulah bunyinya. Sekali lagi, ini rada tajem. Secara dia udah tahu kalo aku gak bisa pake mobil, eerrr...
Malemnya, dengan semangat membara tak ingin diremehkan, aku belajar nyetir mobil. Ralat: minta bapak buat diajarin nyetir mobil. Dan seperti yang bisa diprediksikan, aku ditolak dengan sukses. Yah, bapak kan juga sibuk kerja. Tapi besoknya, sekonyong konyong, ibu bilang kalo udah daftarin aku kel les setir mobil Thamrin. Ada apa ini?? Aku gak nyangka sampe repot repot dimasukin les setir segala, haha... Pasrah deh. Singkat cerita, Aku udah lulus les dan AGAK bisa mengendalikan mobil. Kadang aku pake Carry buat latihan muterin Pasadena, kadang mesinnya mati pas persimpangan karena terlalu dangkal nginjek kopling, kadang dilihatin orang orang sekitar, kadang diklakson mobil belakang. Parah, tapi gak nyurutin semangat buat belajar nyetir...
Meskipun aku udah agak lancar, tetep aja kau gak pernah bawa Carry keluar dari Pasadena. Bukannya gengsi, tapi menghindari polisi. Kan pick up lebih sering dirazia dan distop padahal aku gak punya SIM. Lagian si cewek itu udah pergi jauh...
Rencana Tuhan selalu datang tanpa bisa diperkirakan. Bener bener gak bisa dicerna pake logika. Beberapa minggu yang lalu bapak beli mobil. Dan bukan pick up lagi, Thanks God!
Bapak bukan orang yang miskin miskin amat. Dia bisa beli mobil dari dulu kalo mau. Cuman bapak sama ibu kan tempat kerjanya juga deket dari rumah. Sodara hampir semua di Semarang. Paling jauh tuh di Jepara dan Demak, itu juga biasanya kesana pas Idul Fitri doang. Jadi, kita gak terlalu butuh mobil sebenernya. Tapi entah deh, kok pas banget tiba tiba bapak beli Avanza.
Si Avanza lebih sering diem di depan rumah. Karena kayak yang aku bilang tadi, di keluarga kita sebenernya gak butuh butuh mobil amat. Sampe beberapa minggu sejak dibeli, masih bisa dihitung pake tangan tuh Avanza keluar dari habitatnya. Dan kemaren abis pulang magang, aku gak mau sia siain kesempatan bagus. Hawanya udah pengen banget keluar pake tuh mobil.
Pas pulang magang, cuman ada Fita di rumah. Nekat sih nekat, tapi minimal bilang dulu ke ortu. Makanya sampe jam 9 malem aku tunggu bapak ibu dengan masih pake kemeja komplet, belom copot copot pakaian abis magang. Tapi ortu gak ada tanda tanda bakal menampakkan diri. Hampir aja aku mau bawa langsung tuh mobil sampe si Fita dengan bijak mencegahku.
Fita: 'Jangan pake mobilnya, Mas! Aku takut ah...'
Aku: 'Lha bapak belom dateng...'
Fita: 'Telepon hapenya dong...'
Aku: 'Aku gak tahu nomernya...'
Di dunia ini, hanya nomerku sendiri, rumah dan toko yang aku hafal. Si Fita kemudian mencetin nomernya dan ngasih gagang telepon ke aku. Terdengar suara di kedalaman kabel...
bapak: 'Ya?...'
Aku: 'Aku pinjem mobilnya...'
bapak: 'Mau kemana?...
Hening... Susah bilang kalo mau ke Banyumanik. Secara aku baru baru aja bisa nyetirnya...
bapak: 'Mau kemana?? Sekitar Pasadena aja ya...' (capek deh, gak berkembang...)
Aku: 'Banyumanik...'
bapak: 'Mau apa??...'
Aku: 'Emm... Emmmmm...' (masa ya mau bilang cuman mau nongkrong di Buket?)
bapak: 'Tuuuuuuuuuuutttttttttttttttttttttttt...' (bukan, bukan suara kentut tapi suara telepon ditutup)
Yup, sesuai rencana! Ijin pasti ditolak. Sekarang tancap gas keluarin mobilnya, yihhaaa... Iya, aku tahu kalo ditolak tapi tetep bilang sesuai rencana. Yang penting udah kasih tahu lah! Muehehehe... Sableng!
Ambil hape, ambil dompet, mobil aku puter puter sampe keluar dari parkiran bawah pohon jambu yang sempit itu dan yeaahhh! Aku nyetirin mobil sendirian keluar dari Pasadena!
Tapi kayak biasa: AC dimatiin biar gak berisik dan jendela aku buka biar bisa dengerin kendaraan di luar. Bener bener kebiasaan naik motor yang gak bisa dihilangkan. Aneh aja kalo nyetir dalam keadaan sepi dan hampa.
Hal pertama yang aku khawatirin tentang menyetir mobil sendirian adalah pas di lampu merah. Gimana timingnya buat berhentiin mobil dan masukin gigi lagi pas lampu udah nyala hijau. Tapi dari lampu lalu lintas Sam Poo Kong sampe Kaligarang, semua lancar lancar aja. Thanks God gak mati mesin lagi kayak yang dulu dulu.
Depan AHASS Kaligarang, aku parkirin mobil buat nunggu Ipung. Di saat saat nunggu itu baru kerasa deh kalo gak pake AC, mobil bisa panas banget. Aku usap keringat pake tissue mobil. Tunggu... Kenapa udah ada tissue disini? Aku balik badan lihat ke belakang. Dan ternyata Avanza ini udah berubah cewek banget dengan bantal bantal lucu, sandaran leher bergambar Mr. Bean... Plus kacamata merah marun norak gede. Ini pasti kerjaannya ibu.
Tak beberapa lama, Ipung dateng sambil ngeluh soalnya aku nunggunya kejauhan. Yaelah, kalo pake motor mah aku udah salip kanan, masuk kampung, ke rumahnya sekalian. Nah ini? Pake mobil, yang nyetir barusan lulus dari Thamrin pula...
Kekhawatiran nomer duaku adalah pas berhenti di tanjakan. Contohnya pas di lampu merah Ikan Bakar Cianjur. Lagi lagi gimana ngatur timing rem tangan sama maen gas biar mesin gak mati. Mesin mati dan klakson protes dari kendaraan di belakang adalah yang paling aku takutin dari semuanya tentang mobil. Aku juga cuman pake gigi 1 dan 2 dari rumah sampe Banyumanik. Bego kan? Ini biar jalanku teratur pelan, mencegah nafsu pengen ngebut. Biar gak grogi juga kalo mindahin gigi, soalnya kadang lupa bedain tuas kopling dan rem tangan. Parah...
Kekhawatiran tambahan muncul pas hapeku berdering. Aku belom kebiasa terima telepon pas nyetir. Untung ada Ipung, aku suruh dia yang angkat. Ternyata dari si Kebo yang nanyain posisiku dimana. Udah, beres yang itu...
Gak lama, ada telepon masuk lagi. Kali ini Ipung langsung kasih teleponnya langsung ke telingaku. Ternyata dari ibu...
ibu: 'Kamu dimana?'
Aku: 'Perjalanan ke Banyumanik...'
ibu: 'kamu kok bawa avanzanya?' (ya masa bawa Carry? capek deh...)
Aku: 'Iya...'
bapak: 'Dikira bapak bawa Carry. Ini bapak stress lho. Kan kamu tahu adek abis kecelakaan....'
Aku: 'Ya... Ya...'
Hemm, aku langsung mikir... Untung tadi langsung bawa kabur mobilnya. Kalo nunggu ortu pulang, gak bakal boleh tuh...
Di perjalanan, baru kusadari sesuatu. Ban mobil ternyata empat. Dan kusadari sesuatu lagi. Orang yang baru bisa naik mobil ternyata mudah mengumpat, terutama pada pengendara sepeda motor. Kayak pas ada satu keluarga naik motor yang nyalip dari kiri di tanjakan S. Parman.
Aku: 'Asem! Nyalip dari kiri! Edan! Padahal bawa anak juga. Apa gak mikir keselamatan anaknya apa?? Blablablabla...'
Ipung: 'Kayak kamu gak pernah aja, Mas...'
Atau pas ada motor yang larinya ugal ugalan salip kanan kiri gak peduliin sekitar...
Aku: 'Wooo... Naek motor nggak bener! Gila!...'
Ipung: 'Kayak kamu gak pernah aja, Mas... Tadi kamu boncengin aku naek motor juga gitu...'
Atau paling nggak pas parkiran di pinggir jalan penuh...
Aku: 'Sialan, isinya mobil semua! Parkirannya penuh nih!' (udah melambat plus nyalain lampu sign kiri mau parkir)
Ipung: 'Mas, ini kan Indomaret. Buket masih jauh...'
Hening...
Aku: 'Oh iya! Itu Buket...' (sambil lihat ke depan tanpa rasa bersalah)
Nyampe depan Buket, aku parkirin mobil dengan panduan si Ipung. Baru kusadari juga kalo ternyata dia lebih tahu tentang gimana naik mobil daripada aku. Padahal dia belom bisa nyetir.
Abis sukses parkir manis, ternyata gak boleh naroh mobil di samping warung ronde. Sialan... Tukang rondenya ngumpat ngumpat gak jelas. Tukang parkir (tupir) Buket nyuruh aku buat pindahin mobil...
Tupir: 'Mas, pindahin mobilnya... Itu tukang rondenya udah teriak teriak...'
Aku: 'Emm... Bentar, Pak..' (sambil lihatin parkiran Buket yang penuh dan ribet)
Tupir: 'Pindahin dulu...'
Aku: 'Eh, Pung! Panggilin Otis di atas dong. tolong parkirin mobilku...'
Yah! Akhir kahirnya nyuruh temen buat parkirin. Capek deh. Si Otis yang udah duluan ada di Buket mendadak vallet, hahaha... Dia juga yang ngajarin ngisi bensin. Serta berapa nominal wajar yang harus aku keluarin buat bensin...
Aku: 'Ndes, beli bensin pake mobil tuh 5 ribu boleh nggak?'
Otis: 'Boleh kok...'
Aku: 'Serius??...'
Otis: 'Tapi ntar belinya aku sembunyi dulu...'
Aku: '..................'
Abis Buket, kita cabut ke SPBU UNDIP. Disana tempat yang cocok buat belajar ngisi bensin karena masih agak sepi, jadi gak malu maluin kalo salah apa gitu. Plus tempat agak lebar, jadi kemungkinannya kecil buat nabrak pompa bensinya terus masuk Meteor dengan judul headline 'Anak Ngaliyan baru bisa nyeruduk pompa bensin di Tembalang'.
Aku: 'Isi 20 ribu, Mas...'
Mas bensin: 'Bahan bakarnya apa, Mas?'
Aku: 'Premium...' (jawabnya ngasal, padahal siapa tahu kalo Avanza pakenya solar...)
Sambil ngisi bensin menurut instruksi Otis, aku ajak ngobrol tukang bensinnya...
Aku: 'Masnya mahasiswa, Mas?'
Mas bensin: 'Nggak kok... Maunya sih jadi mahasiswa, haha...'
Aku: 'Gak usah, Mas. Jangan jadi mahasiswa, kerja aja. Bisa dapet duit...'
Mas bensin: 'Hahaha...'
Aku: 'Kalo kuliah kan bayar, kerja kan dibayar...'
Iya, sebuah obrolan yang sangat tak bermutu. Kenapa aku gak sekalian minta nomer hapenya masnya aja ya? oh ya, for your education, duit 20 ribu buat beli bensin itu hasil patungan fifty fifty antara aku dan Ipung. Kasihan Ipung. Udah beli bensin mobil cuman 20 ribu doang, setengahnya pake minta temen pula...
Anyway, balik lagi ke awal. Cowok gak perlu disindir atau ditanyain yang aneh aneh deh. Gak perlu dipertanyakan kemampuannya, komitmennya atau materinya. Kalo emang bener bener sayang, dia pasti bakal berusaha di luar batas nalarnya sendiri buat kamu. Tapi ya dia tetep butuh kamu. Kamu sebagai inspiratornya...