Pages

Sunday, 19 September 2010

senyum simpul

Bapak tua itu mulai di dorong dorong. Orang orang itu sepertinya sudah kehilangan akal. Aku tak kenal bapak itu, mungkin pemulung dilihat dari gerobaknya. Aku juga tak kenal orang orang itu, mungkin preman preman kampung dilihat dari tingkah lakunya.


Di saat saat seperti ini, gerimis dan angin yang kacau tanda Semarang akan hujan besar tak bisa lagi kuhiraukan. Aku tak bisa membiarkan si bapak dipojokkan seperti itu. Tapi aku ini hanya anak SMA yang sedang patah hati, yang sebenarnya hanya butuh sendiri. Aku cuma bisa terdiam mendelik melihat setiap adegan tadi dari pertama. Heran, kenapa tak ada orang lain yang membantu si bapak? Sekitar Tawang juga tak terlalu sepi. Seperti mereka sudah kenal preman preman itu dan tak mau berurusan dengannya...


Badai mendekat, petir mulai terdengar menyambar nyambar. Salah satu dari empat orang itu tiba tiba naik pitam. Dia melempar botol minuman ke paving kota lama hingga pecah. Aku masih bisa mendengar suara pecahannya meski dengan langit seberisik ini. Bentakan si preman juga terdengar makin keras. Gila! Aku tak bisa biarkan saja. Aku tahu, mungkin aku akan berakhir dengan mati ditusuk dan masuk headline Suara Merdeka tapi setidaknya... Satu kali di hidupku... Aku pernah melakukan hal yang lebih berguna daripada menyendiri menangisi wanita di Polder Tawang. Aku segera berlari ke arah mereka sambil berteriak 'Ojo, Mas! Ojo, Mas!...'.


Sampailah aku hadapan mereka. Tepat di antara si bapak tua dan empat pria kekar berambut kucel. 'Sabar, Mas! Sabar, Mas!', teriakku pada mereka. Agak aku tinggikan suaraku agar terdengar di tengah suara petir dan angin. Agar terdengar oleh orang orang setengah mabuk ini. Bau alkoholnya masih terasa meski mereka belum membuka mulut berbicara.


'Sabar piye?? Kowe rak sah melu melu!!', bentak salah satu dari mereka yang memakai kemeja merah butut.


'Duit, Mas?... Duit, Mas?... Jikok duitku wae ki, Mas..', tawarku sambil gemetaran mengambil dompet di tas.


Ketika kepalaku melongoh ke bawah ke dalam tas tiba tiba 'DAAKKKK!!!'. Badanku terhuyung ke samping. Aku terserak ke paving. Kening dan telinga kananku tiba tiba nyeri sekali, sakit. Aku tak bisa melihat jelas, semuanya hampir kabur. Sepertinya aku baru saja dipukul salah satu dari mereka karena jengkel. Samar samar dua preman paling depan menyerocos kata kata kasar kepadaku yang masih terjatuh mengaduh. Dua orang lainnya makin kalap dan menendang gerobak. Bapak itu berteriak jangan, meminta dalam bahasa Jawa kepada mereka agar tidak menjauhi gerobaknya. Aku sulit bangun untuk membantu.


Lagi lagi suara berisik kudengar samar samar. Suara orang orang yang lebih banyak. Itu warga sekitar yang mendekat, banyak sekali jumlahnya. Mereka datang bersama seorang polisi, seragam coklatnya masih khas terlihat mata perihku. Mereka orang orang baik pikirku. Preman preman itu kemudian lari terbirit birit masuk ke salah satu gang sempit Kota Lama, berganti orang orang lain yang kini mengerubungiku dan si bapak. Badanku diangkat oleh dua orang dari warga tadi, dibawanya aku ke tempat teduh di warung pojok stasiun Tawang. Tiba tiba ada yang menjerit. Selanjutnya diiringi kegaduhan orang orang lainnya. Si bapak dan gerobaknya dibawa ramai ramai ke tenda polisi non-permanen di parkiran stasiun. Ini apa lagi? Ini pasti ada yang tak beres! Aku segera beranjak berlari ke tenda polisi itu. 'Lho... Mau kemana, Dek? Sini dulu! Darahnya masih keluar di telinga itu lho, Dek!', jerit si pemilik warung. Aku terpincang pincang ke seberang di bawah hujan deras. Seragam sekolahku sudah hampir tak berwarna putih lagi, berganti merah darah yang merembes gara gara hujan.


Benar kulihat! Seorang polisi dan kerumunan orang menanyai bapak tua itu seperti kriminal. Aneh sekali, mengapa mereka tidak mengejar preman preman itu alih alih malah disini? 'Bapaknya gak salah, Pak! Bapaknya gak salah, Pak!', teriakku setengah sadar.


'Gak salah gimana??...', balas polisi itu.


Si polisi berbalik dan kembali bertanya ke bapak itu, 'Benar namamu Ratno?'


'Bener, Pak... Kulo Ratno...', jawab bapak itu dengan mata menerawang sesuatu.


'Kamu ngapain bawa bawa... Di gerobakmu itu lho! Kamu tahu itu apa? Kamu bisa kena masalah tahu gak!'.


'Itu benar anak saya, Pak... Namanya Muslikhin...'


Gerobak? Anak? Sekarung pertanyaan bergejolak di kepalaku yang tinggal sebelah ini dengan cepat. Sulit rasanya berpikir jika kamu hanya bisa melihat dengan mata kiri sementara kepalamu sakit dan telinga kananmu mengeluarkan banyak darah. Aku langsung terobos kerumunan orang yang mengelilingi gerobak Pak Ratno seperti keheranan. Aku singkirkan tangan tangan besar mereka. Hingga aku bisa melongok ke dalam isinya. Aku terkejut! Aku melongo diam lama sekali. Mataku mendelik seperti kesetanan...


Aku cepat cepat balik lagi ke Pak Ratno. Di depannya, sambil tak terasa air mata mengucur deras, aku bertanya 'Itu anak Bapak?'.


'Iya... Maturnuwun nggeh, Mas. Mau sampun ditulungi... Mas masnya tadi mau minta uang tapi saya nggak punya uang...'


'Itu anaknya Bapak???', aku ulangi pertanyaanku seolah tak peduli jawabannya baru saja.


'Iya, Mas... Mau saya kubur di Pati...'


'Kok bisa, Pak?'


'Tadi pagi sakit lagi, panas... Sudah dari kemaren Selasa. Baru tadi pagi nggak ada pas saya bawa mulung di Pemuda hujan hujan... Mau saya bawa pulang ke ibunya di Pati...'


'Kok bisa....', tangisku mengaburkan pertanyaanku yang kuulang ulang lagi.


'Saya nggak punya uang...'


Uang? Uang??? Kualihkan pandangan pada gerobak itu. Ada seorang anak laki laki terbaring. Matanya masih jernih. Umurnya mungkin 2 tahun. Tangannya mendekap kaki kakinya. Kepalanya menoleh ke kiri, tapi masih bisa kuintip bibirnya tersenyum simpul...




3 comments:

  1. pengen nangis rasany,
    ironis...T_T

    ReplyDelete
  2. ini kisah nyatakah? #DamnIt'sTrue

    ReplyDelete
  3. @lathifa ini iseng iseng bikin cerpen kok..

    ReplyDelete

thanks for the comment...